Indahkan Kritikan

Sumber Foto: Picasa Web

Adzan berkumandang, menyadarkan Rizal dari bunga tidur yang baru saja Ia nikmati. Dengan paras yang dibumbui rasa optimis Ia melangkahkan kaki ke Musholla dan mulai membuat sebuah karya lukis Seusai Sholat Shubuh berjamaah.

Matahari mulai menampakkan cahayanya, bersamaan dengan selesainya lukisan yang dibuat Rizal. Lalu,  Ia membenahi diri untuk persiapan berangkat menuntut Ilmu di Sekolah. Saat menusuri jalan hingga tiba di Sekolah, bermunculan dalam pikirannya ilham-ilham yang siap ditumpahkan ke dalam lukisannya.

Setibanya di Sekolah, Ia buka lukisannya yang belum rampung diselesaikan. Waktu untuk memulai pelajaran minyasakan jarak yang cukup jauh. Rizalpun memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menyelesaikan Lukisannya yang setengah jadi. Ia luapkan segala emosi serta inspirasi yang Ia pendam kedalam lukisannya tersebut. Bahkan, ajakan beberapa temannya untuk sarapan di kantinpun Ia hiraukan, karena sangat bersemangatnya Ia dalam membuat karya lukisnya.

Setelah hampir satu jam Ia bergelut dengan pensilnya. Iapun berhenti, dan terlihat senyuman puas menghiasi wajahnya, karena telah menyelesaikan karya lukisnya. Belpun tanda pelajaran dimulai berbunyi, seluruh siswa memasuki kelas masing-masing untuk memulai pelajaran. Di dalam kelas, Rizal menunjukkan karya lukisnya ke semua teman sekelasnya. Semua teman Rizal memberi tanggapan positif atas karyanya, kecuali Kamal. Kamal berkata  kepada Rizal, “Sepertinya Perpaduan warna dalam lukisanmu sangat kurang pas, akan lebih baik lagi kalau Kamu memikirkan ulang dalam pemberian warnanya”.Mendengar pernyataan Kamal, Rizal tampak tidak senang dan Ia berkata kepada Kamal, “Kamu tahu apa soal seni, toh yang lainnya saja bilang ini sangat bagus”. Kamalpun berkata lagi pada Rizal, “Yah kalau Kamu memang berfikir seperti itu, Terserah. Toh yang memetik hasilnya juga Kamu”.

Sepulang Sekolah Rizal langsung berangkat menuju tempat perlombaan seni lukis yang ingin Ia ikuti. Dalam perjalanannya, Ia terus teringat kata-kata Kamal yang disampaikan padanya. Rizal bergumam dalam hati , “Gambarku ini udah paling bagus kok, jadi tidak mungkin kalau gambarku ini bisa kalah sama yang lain. Soal Kamal dia mah cuma tong kosong yang nyaring bunyinya, tau apa dia soal seni”.

Setibanya di tempat perlombaan, Ia ikuti serangkai kegiatan yang telah di rancang panitia perlombaan. Perlombaanpun dimulai, rupanya Rizal membuat lukisan yang tidak jauh berbeda dengan lukisan yang telah Ia buat sebelumnya. Rasa Optimis dan Semangat yang kuat seolah tidak mau pergi dalam diri Rizal.  Rizalpun menjadi peserta pertama yang menyelesaikan gambarnya terlebih dahulu. Peserta-peserta lainnya juga terlihat mulai menyusul Rizal.

Juri mengizinkan para peserta untuk berisitirahat dan menunggu hasil tes setelah satu jam kemudian. Semakin optimis Rizal saat menunggu pengumuman dari juri keluar. Berlalulah satu jam yang digunakan untuk menunggu. Pengumuman hasil perlombaan diumumkan. Para peserta yang meraih prestasi, dipanggil dimulai dari urutan terakhir dari tiga besar. Pada urutan ketiga, kedua nama Rizal tak juga dipanggil. Hingga menunggu pengumuman peringkat satu, Rizal semakin bertambah optimis. Terlihat senyum puas di wajahnya saat namanya tidak keluar pada urutan 3 dan 2, karena Ia yakin akan dipanggil sebagai sang juara.

Pengumuman sang juara diumumkan, Rizalpun kecewa mendengar hasil keputusan sang juri. Ia kecewa, karena namanya tak masuk sama sekali dalam nominasi tiga besar. Tidak puas dengan hasil yang diberikan sang juri, Ia berencana untuk menemui salah satu juri perlombaan seusai acara. Ia ingin menanyakan apa yang kurang dari gambar yang telah Ia buat dan apa yang membuat gambarnya tidak lolos sama sekali dalam seleksi.

Acara selesai dilaksanakan. Rizal yang sudah berencana menemui sang juri, menjalankan niatnya. Rizal berdiri dihadapan sang Juri, “Permisi Pak, Saya mau bertanya tentang pendapat Bapak. Bagaimana sih menurut Bapak gambar yang saya buat ini ?”. Tanya Rizal sambil menunjukkan gambarnya yang telah Ia buat. “Gambar ini sih sangat bagus, bahkan lebih bagus daripada gambar yang lainnya. Hanya saja perpaduan warna yang dimasukkan kurang pas. Andai saja Kamu bisa mengatur dengan tepat warnyanya, pasti Kamu dapat menjadi Juaranya”. Mendengar tanggapan itu Rizal langsung terdiam dan teringat kata-kata Kamal padanya.

Rizal kembali ke Rumah setelah mengikuti acara perlombaan. Selama perjalanan Ia merenungi perbuatannya. Terpikir dalam benaknya, “Andai saja Aku tidak menjadi orang yang keras kepala saat temanku memberi kritik padaku”.

Syarif hidayat
Teknik Komputer dan Jaringan

Comments

comments

4 thoughts on “Indahkan Kritikan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *